Febby Dt Bangso Doktor Pariwisata Ke 10 Trisaksti, Khusus Ketahanan Pariwisata

SEPUTARSUMBAR, Jakarta – Febby Dt Bangso dinyatakan berhak menyandang gelar doktor pariwisata oleh ketua penguji pada sidang terbuka promosi doktor pariwisata di kampus institute pariwisata trisakti IKN Bintaro di bilangan Jakarta Selatan , Kampus ini sudah 55 Tahun mendedikasikan diri melahirkana Sumber Daya Manusia di Industei Pariwisata Indonesia dan Luar Negeri, Febby Dt Bangso dinyatakan lulus dengan pujian dan berhasil menyelesaikan pendidikan selama 2 tahun 7 bulan dan menjadi lulusan pertama di angkatan ke dua program doktor pariwisata trisakti sekaligus pemegang sertifikat QRGP (Qualified Risk Governent Profesional)

Febby Dt Bangso Memaparkan Disertasi yang berjudul Strategi Ketahanan Pariwisata pada masa krisis , studi adaptasi dan berkelanjutan di Provinsi Bali

Dihadapan Penguji , Agus Riyanto selaku ketua penguji dengan anggota Prof Mirza dari Institute Pariwisata Trisakti , Prof Dr Ir Reni Maryeni Mp , Deputy Kajian Strategik Lemhanas RI , Prof Tafdil Husni dari Universitas Andalas , Mayjen Dr Jhoni Wijayanto dari Univesitas Pertahanan didampingi Promotor Prof Willy Arafah dan Co Promotor Dr Rahmad Ingkedijaya dan Ketua Prodi S3 SKSG UI Dr Margaretha Hanita Penulis Buku Ketahanan Nasional yang juga Ketua APTANNAS (Asosiasi Dosen dan Pengajar Ketahanan Nasioanal)

Febby Dt Bangso Memaparkan bahwa Ketahanan diuji saat kita menghadapi krisis , apakah kita mampu melewati berbagai macam krisis dan mampu untuk bangkit kembali , disamping itu kita juga harus mempelajari kerentanan kerentanan yang akan terjadi sehingga kita bisa antisipasi untuk menyiapkan strategi ketahanan pariwisata dalam menghadapi berbagai model macam macam krisis yang pernah terjadi di bali, seperti krisis politik , krisis ekonomi , krisis keamanan , krisis bencana dan krisis kesehatan

Lebih lanjut Febby Dt Bangso menyampaikan bahwa dari lima krisis tersebut , jika kita tidak mengantisipasi maka krisis itu akan melahirkan krisis baru di dunia pariwisata yakni krisis reputasi

Krisis reputasi akan memberikan pengaruh dan dampak besar terhadap keberlangsungan pariwisata , jika bali sebagai destinasi kita dianggap tidak aman dan tidak nyaman bagi wisatawan maka pariwisata kita akan lebih terpuruk lagi karena image destinasi yang tidak aman dan tidak nyaman sebab pengalaman masa lalu tentang tragedi bom bali adalah preseden buruk dan febby dt bangso melihat adanya kegagalan fusi inteligent , kejadian bom di bali bisa terjadi dua kali berturut turut

Febby juga menegaskan perlu antisipasi khusus terhadap kebijakan visa on arrival dengan mengidentifikasi wisatawan mancanegara yg datang ke bali dengan cara memprofiling siapa mereka ? untuk menjaga keamanan di bali, sebab saat ini banyak orang asing yang datang ke bali mengganggu keamanan dan kenyamanan di pulau dewata bali

FDB menyorot tentang keamanan dan kesehatan yang menjadi kata kunci rujukan UN Tourism , dan pembelajaran atas kejadian bom bali satu dan, bom bali dua termasuk gangguan gangguan lainnya seperti pembunuhan oleh WNA yang dilakukan terhadap wisatawan asing juga di bali , pabrik narkoba oleh warga negara asing di bali dan bali dijadikan tempat pelarian atau persembunyian pelaku kejahatan internasional , ataupun warga negara asing yang tidak bisa pulang ke negaranya karena perang dan lain sebagainya,

Febby Dt Bangso mengingatkan juga agar intelijen indonesia harus difokuskan juga untuk kepentingan pariwisata jangan hanya untuk kepentingan politik dan keamanan tetapi bagaimana inteligent mampu membangun issue dan penguatan brand terhadap destinasi pariwisata di indonesia , kita melihat bagaimana intelijen korea bekerja untuk kepentingan pariwisatanya , research market bahkan kuliner nya menyesuaikan dengan lidah orang indonesia bahkan gerai makanan korea itu sudah ada dari aceh sampai papua, belum lagi industri musik kpop yang menjadi daya tarik anak anak indonesia dan tontonan seperti drama korea dengan latar belakang objek.wisata yang ada dikorea menjadi referal bagi wisatawan nusantara menjadikan korea sebagai daerah tujuan wisata

Febby Dt Bangso dalam penelitian ini menyempurnakan novelty yang disampaikan holladay (2018) untuk membangun ketahanan dan keberlanjutan pariwisata perlu pemahaman interaksi sistem sosial, ekonomi , kelembagaan hingga variabel ekologi , menurut febby datuk bangso pasca pendemi covid 19 dan krisis iklim ( extreame weather) perang rusia ukraina, dan kondisi kondisi kekinian apa yang disampaikan holladay tidak cukup tetapi harus ditambahkan dengan pilar budaya, geo politik dan isu global

Budaya menjadi isu penting dan pembedaan , sekaligus menjadi daya tarik untuk ketahanan pariwisata, issue global dan geopolitik menjadi penting untuk menentukan strategi keamanan destinasi , industri dan ketahanan pariwisata

Febby juga menjelaskan perlu pengukuran terhadap ketahanan destinasi , ketahanan industri tanpa mengabaikan ketahanan komunitas dan kearifan lokal untuk ketahanan pariwisata secara komprehensif

Saat Krisis terjadi saat pendemi covid , dunia industri pariwisata dan destinasi pariwisata di bali merasakan begitu dashyatnya dampak yang terjadi dari sisi kegiatan aktivitas pariwisata sehingga mengganggu stabilitas ekonomi , ternyata cara pandang pelaku industri pariwisata tidak seluruhnya sama bagi masyarakat adat bali ,

masyarakat bali , krisis dimaknai sebagai tri hita karana dimana semua kejadian krisis adalah bentuk keseimbangan untuk menjaga hubungan antara Manusia dengan Tuhan , Manusia dengan Manusia dan Manusia dengan Alam dan bagi mereka semua krisis adalah astungkara , Memang Sudah JalanNya dan orang bali akan terus mengamalkan tri karya parisudha sebuah kearifan lokal sosial agar tetap berfikir yang benar (manacika) , berkata yang benar (wacika) dan berbuat yang benar (kayika)

Nasionalisme adalah akar dari jawaban tentang Ketahanan Pariwisata yang mana Meliputi Industri dan Destinasi dimana bahagian terpenting adalah ketahanan komunitas masyarakat setempat agar industri dan destinasi bisa tetap bertahan dan berkelanjutan , pendekatan ketahanan pariwisata dengan antropologi pariwisata memberikan pamdangan terhadap wawasan nusantara yang dianggap mampu menimbulkan rasa cinta tanah air dan kesetiakawanan sosial sehingga kita lah yang menjadi pondasi dasar kekuatan ketahanan pariwisata kita pada masa krisis

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang disesuaikan dengan berbagai metode, seperti Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) dan Metodologi Sistem Lunak (Soft System Methodology/SSM). Tahap output dari studi ini melibatkan pengembangan model konseptual menggunakan pendekatan Analisis Jaringan Sosial (Social Network Analysis/SNA) dan Pemodelan Jaringan Kualitatif (Qualitative Network Modeling/QNM). Indikator kritis selama periode krisis adalah adaptasi ekonomi pariwisata, adaptasi kebijakan pemerintah, peningkatan kompetensi sumber daya, pemberdayaan masyarakat, dan optimalisasi akses pendukung (infrastruktur). Pola adaptasi utama melibatkan pengambilan keputusan yang cepat selama krisis, integrasi lintas sektor, peningkatan investasi, pemerintah lokal yang efektif, dan pengembangan teknologi informasi.

Febby Dt Bangso dalam akhir paparannya menyampaikan perlu sosialisai oleh kementrian pariwisata kepada stake holder bahwa pbb telah meratfikasi sejak tahun 2022 dan menetapakan 17 Februari sebagai hari ketahanan pariwisata global.
Untuk pengayaan penelitian ini adapun informan atau narasumber yang diwancarai oleh promovendus antara lain pada sektor pariwisata , sandiaga uno menparekraf , sapta nirwandar , praktisi pariwisata asnawi bahar ketua umum dpp asita dua periode , dan alm I Nyoman Kandia Ketua Umum DPP HPI , Fadlizon Ketua umum SNKI , Doni Oscaria Dirut In Journey dan Syaiful Huda Ketua Komisi X , Letjen TNI Doni Monardo (alm) Pak Tekor (Budayawan Bali).(adr)

Komentar