Satu Rumah Satu Sarjana, Genius Umar: Tidak Ada Istilah Miskin Tidak Bisa Kuliah

Pariaman,-Walikota Pariaman Genius Umar terus melakukan inovasi dalam mengentaskan kemiskinan. Lewat program satu rumah satu sarjana wujudkan mimpi masyarakat miskin untuk kuliah di perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia.

Genius Umar mengatakan, Tidak ada istilah Miskin tidak bisa kuliah. Kita akan terus lakukan pengiriman siswa berprestasi untuk bisa masuk perguruan tinggi.

“Kita ingin memutus mata rantai lingkaran setan kemiskinan di Kota Pariaman. Warga miskin yang tak terpikirkan untuk menguliahkan anaknya karena ketiadaan biaya, kita kuliahkan secara gratis,” ujar Wako Genius Umar.

Setiap tahun, khususnya sejak menerima amanah sebagai walikota Pariaman, seratus anak-anak keluarga miskin yang berprestasi, dikirim kuliah secara gratis ke sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, ditambah uang saku Rp.500 ribu per bulan per orang.

“Kita sudah kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia. Kita utamakan politeknik karena ilmunya terapan, sehingga anak-anak tersebut setelah tamat bisa langsung bekerja,” ungkap Genius yang bakal mengadopsi program ini menjadi program provinsi bila dipercaya memimpin Sumbar bersama Calon Gubernur Irjen. Fakhrizal dari jalur perseorangan.

Saat ini, lanjut Genius, sudah tahun kedua program ini berjalan. Setelah tahun ketiga dan keempat nantinya, periode pertama pasti sudah tamat.

“Nah, tugas mereka yang sudah tamat dan bekerja adalah menarik keluarganya keluar dari lingkaran kemiskinan. Jika yang tamat itu ada setahun, maka sedikitnya akan ada 100 keluarga yang keluar dari garis kemiskinan. Jika dikali 4 orang saja satu keluarga, maka dalam setahun sudah ada 400 orang yang lepas dari status kemiskinan,” jelas Genius.

Pasalnya, ujar Genius, kerjasama dengan sejumlah politeknik itu tidak saja dalam hal menguliahkan mereka. Tapi juga berlanjut kerjasama dengan sejumlah industri, sehingga para lulusannya bisa langsung dapat kerja.

“Dari yang sudah berjalan, ternyata hasilnya luar biasa. Anak-anak yang kita kirim, ternyata indeks prestasinya bagus-bagus bahkan ada yang IP nya 3,8. Nah, bagi yang IP nya di atas 3,75 kita tambah lagi satu juta,” terangnya. (*)