Hj Nevi Ungkap IP, GF dan MA Satu Meja di Peresmian, Bukti Nyata Pemimpin Sumbar itu Kompak

SEPUTARSUMBAR, Padang – Peresmian nama baru Masjid Raya Sumbar Minggu 7/7-2024 menjadi Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ada kebanggaan lain terhadap Sumbar.

“Selain nama nya adalah Imam Besar Masjidil Haram dulu nya, tiga gubernur hadir bersama dan duduk satu meja, Irwan Prayitno (IP) 2010-2021, Gamawan Fauzi (penggagas Masjid Raya) dan Mahyeldi pemberi nama baru Masjid Raya Sumbar, hadirnya tiga gubernur membuat bangga ranah dan rantau Sumatra Barat,”ujar Hj Nevi Zuairina, Senin 8/7-2024 di Padang.

Bahkan wartawan senior Sumbar Khairul Jasmi mengungkap apresiasi lewat cara lain dengan bahasa Minang banget.

“Jan pai lu, betigo ko aset kami lai, jangan pergi pula, bertiga ini aset kami (Sumbar),” ujar Khairul Jasmi di sela-sela peresmian nama Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi untuk Masjid Raya Sumbar, Minggu (7/7/2024).

“Yo batigo ko nan tingga lai,”dibalas spontan Irwan Prayitno.

“Pai surang, siso baduo,” sambung Gamawan.

Pada waktu yang belum jauh ke belakang, para gubernur, Harun Zain, Azwar Anas dan Hasan Basri Durin telah berpulang ke rahmatullah. Alfatiah.

Yang bertiga pemimpin kita ini, sehat wal afiat. Segeh. Ceria dan suka bagarah.

Sebenarnya kata Khairul Jasmi susah juga mempertemukan ketiganya kalau tak ada berada. Mereka Sama-sama sibuk.

Acara pemberian nama Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi itu, dilakukan bertepatan dengan 1 Muharram 1446. Hadir 58 orang cucu cicit ulama besar itu. Dua di antaranya sudah berkali-kali kontak dengan saya Khalid dan Yassir, sebagai nara sumber saya dalam penulisan novel biografi ulama besar itu.

Maka berpidatolah pertama kali Irwan Irwan, Gamawan dan Mahyeldi. Pakai pantun agak banyak, kecuali Gamawan hanya satu saat penutupan diambilnya dari kaba.

“Pantun ada yang membuatkan,” kata Mahyeldi. Soal pantun, pak Irwan juara. Akurasinya mantap,” ujar Mahyeldi lagi.

Panas terik sekali, pagi-pagi sudah tak tahan, kursi tamu menghadap pula ke matahari itu, akhirnya terpaksa digeser ke belakang, agak lindok.

Dan, perwakilan keluarga besar Syekh Ahmad Khatib pun berpidato dalam Bahasa Arab, untung ada penerjemah Ust Rohimul Amin penerjemah. Maka mengertilah hadirin dan hadiran. Diterjemahkan atau tidak, pidato Bahasa Arab-nya yang seperti air mengalir itu, membuat beberapa emak-emak yang berdiri di sayap kiri pentas, khusu’ mendengar nyaris tak berkedip.

Sementara itu, hadirin mendapat suguhan air Zamzam dan kurma. Ini baru sero asli, dibawa oleh orang Saudi Arabia.

Lalu pemberian nama diresmikan setelah asbabun nuzulnya dijelaskan panjang lebar oleh Ketua MUI Gusrizal Gazahar dan Gamawan Fauzi. Kata Gamawan, ide pembangunan masjid itu, lantaran tidak ada masjid sebesar dan sebagus itu di Sumbar.

“Buatlah satu lihat Makassar,” kata Wapres Jusuf Kalla waktu itu pada Gamawan, saya tahu itu, tapi Gamawan lupa menyampaikannya.

Pemilihan nama kata Gusrizal telah diputuskan MUI dalam rapat berkali-kali ketika masjid sedang dibangun.
Rizal Muslimin adalah arsitek masjid ini. Karyanya memenangkan sayembara internasional yang diketuai Wisran Hadi anak Buya Darwas Idris.

Kalau bersejarah panjang. Bia dikumpa nak nyo singkek, kalau tak salah dengar saya, itu kata Gamawan Fauzi. Maka, kemudian ditandatangani lah prasasti dan dibuka selubung papan nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi.

Inilah masjid satu dari 7 masjid dengan arsitektur terindah di dunia. Indah memang.

Karena KJ biasa Khairul Jasmi duduk di belakang gubernur dan dua mantan gubernur, foto dari belakang pula.

“Tersenyum-senyum saja Dirut Semen Padang, Indrieffouny Indra melihat perangai saya. Foto itulah yang sama kirim ke Gamawan dan Irwan. “Mantap,” IP sapaan Irwan.

Hj Nevi Zuairina mengakui peresmian masjid dihadiri tiga Gubernur Sumbar beda periode itu telah memberi makna luar biasa bagi rang Minang se dunia.

“Kami bangga, tiga gubernur tentu tak sekedar duduk bersama saja, harus lanjut kolaborasi dan sinergisitas nya untuk percepatan pembangunan Sumbar dan sejahtera masyarakatnya,” ujar Hj Nevi Zuairina.

Hj Nevi Zuairina juga mengakui pakai nama Ulama Besar di Tanah Suci.

“Tentu harapan kita berganti nama Masjid Raya jadi al-Minangkabawi ada peluang bantuan dari keluar besar baik moral dan fisik, juga membuka kran bantuan atau investasi Arab Saudi ke Sumbar,” ujar Hj Nevi Zuairina.(adr)

Komentar